Titian Karir Lulusan Teknik Mesin - DESAINCAD

Titian Karir Lulusan Teknik Mesin

Titian Karir Lulusan Teknik Mesin

Indonesia 12 tahun yang lalu mengalami krisis keuangan, dan dunia sedang mengalami krisis keuangan global yang dampaknya belum bisa diukur dengan pasti. Masalah pengangguran di Indonesia masih belum dapat diatasi dan lulusan perguruan tinggi yang tidak memperoleh pekerjaan cukup banyak jumlahnya. Teori Paul Krugman, Professor ekonomi dari Princeton dan pemenang hadiah Nobel dalam ilmu ekonomi 2008 , tentang ”economic of scale”industri perlu dicermati dengan seksama. Fakta yang terlihat adalah konsentrasi industri yang berada di negara maju saja dan Indonesia adalah pemain pinggiran dalam peta industri dunia. Belakangan ini,para pengamat ekonomi malahan mengkhawatirkan terjadinya fenomena de-industrialisasi.

Pandangan pesimistis di atas dapat menimbulkan perasaan kecil hati. Namun demikian dari sisi lain dapat diperoleh informasi yang cukup menggembirakan. Indonesia sudah menjalankan reformasi industri keuangan dengan cukup baik sejak krisis 1998 dan pada kenyataannya (menurut Paul Krugman juga) industri yang berlokasi di negara maju bisa berpindah ke negara yang sedang berkembang apabila faktor kompetitifnya dipenuhi, seperti terjadi di China, India dan Eropa Timur. Pengamatan dalam penyerapan tenaga kerja juga membuktikan bahwa lulusan Teknik Mesin dengan kriteria dan performansi yang baik tidak terlalu sukar mendapat pekerjaan. Penulis selalu berpesan bahwa lulusan harus memegang nilai nilai luhur, berotak cerdas dan mempunyai sikap yang baik (beautiful values, beautiful mind and beautiful attitude ) karena mereka adalah icon atau image dari perguruan tinggi. Mutu dari lulusan merupakan salah satu faktor dalam peringkat dari universitas. Keberuntungan lainnya adalah lebarnya spektrum industri yang dapat menyerap lulusan program studi teknik mesin, mulai dari industri pertanian, ”manufacturing”, pembangkit energi, transportasi, pertambangan, minyak dan lain ain. Bila para sarjana baru tidak menuntut remunerasi yang terlalu tinggi maka waktu tunggu untuk memperoleh pekerjaan akan relatif singkat. Pandangan optimis ini juga ditunjang dengan tumbuhnya industri kreatif yang memungkinkan partisipasi lulusan teknik Mesin. Patut dibanggakan bahwa pada tahun ini kota Bandung mendapat pengakuan sebagai ”creative city ”

Kasus yang baru diulas berlaku untuk para alumni yang ingin menjadi pekerja profesional. Penulis, dalam makalah “How Should We Educate Our Engineers?,” mengkelompokan titian karir lulusan menjadi 3 kategori yaitu : 1. Menjadi pekerja profesional, 2. Menjadi dosen atau peneliti, dan 3. Berprofesi di luar bidang Teknik Mesin dengan menggunakan pendidikannya sebagai basis intelektual. Karena ketidakcocokan perencanaan pendidikan (”education push factor”) dengan permintaan riil di industri (”industrial pull factor”) akan selalu terjadi, maka tidak semua lulusan akan dapat berkarir menjadi pekerja profesional dan peneliti/dosen . Dalam pertemuan antara alumni dan mahasiswa Teknik Mesin ITB bulan Oktober 1994, diingatkan bahwa para lulusan harus mempunyai kemampuan adaptasi atau “intellectual agility” yang memadai ("Those who are successful in their careers are those who have the ability and confidence to adapt to their jobs").

Walaupun bekerja di luar bidang, alangkah sayangnya apabila modal intelektual yang sudah diasah selama 4 tahun tidak termanfaatkan dengan baik untuk kemajuan Indonesia. Penulis mengusulkan agar para lulusan yang meniti karir di kelompok 3 bisa memilih jalur strategis berikut :
1. Menjadi birokrat di lembaga pemerintah.
2. Menjadi politisi atau anggota legislatif.
3. Menjadi pengusaha.
4. Menjadi pioner untuk pembangunan di daerah.


Birokrat di pemerintahan yang andal dan mumpuni saat ini sangat diperlukan apalagi jika bidangnya berkaitan dengan kompetensi Teknik Mesin. Politisi atau anggota legislatif yang memegang amanah sebagai wakil rakyat dan ahli dalam mengarahkan misi kemajuan dan kesejahteraan bangsa merupakan profesi yang belum terbentuk dengan mantap pada era reformasi ini. Politisi Indonesia masih harus banyak belajar untuk bisa menjadi pemimpin di daerah, di pusat atau bila mungkin menjadi pemimpin bangsa. Kelompok pengusaha menurut pengamatan masih terlalu sedikit bila dibandingkan dengan jumlah pengusaha di negara maju. Amerika Serikat mempunyai pengusaha sebanyak 11% dari penduduknya, Singapura 7,2 % dan Indonesia dibawah 1 % (Kompas, 21 Juli 2008). ITB saja sejak 2003 mendirikan Pusat Inkubator Bisnis untuk mendidik pengusaha muda dengan tujuan untuk mengubah pola pikirnya dan memberikan pengalaman. Pioner di daerah jumlahnya juga masih sangat sedikit dan mereka diperlukan untuk mengubah paradigma pembangunan daerah. Industri lokal seperti industri bio-energi, perikanan, perkapalan dan industri berbasis agro yang lain memerlukan pioner yang mempunyai kompetensi ilmu yang memadai. Apapun titian karir yang dipilih, penulis mengusulkan agar semua lulusan menjadi kaum kognitariat, istilah menarik yang ditulis oleh kolumnis Sukardi Rinangkit, yang artinya pekerja intelektual yang peduli atas nasib bangsa.


Inilah tantangan yang harus direnungkan oleh setiap lulusan Teknik Mesin dengan harapan menjadi masukan untuk tindakan ke depan demi kemajuan program pendidikan Teknik Mesin, untuk kemajuan ilmu dan industri serta untuk lentera titian karir pribadi maupun generasi muda..
Salam SOLIDARITY FOREVER...!!!


(Sumber : Seminar tahunan Teknik Mesin ke-7,Univ. Sam Ratulangi. Manado 4 Nov. 2008. keynote : Djoko Suharto dan Andi Isra Mahyuddin)




Please write your comments